Terbit di Suara Kampus, Edisi April 2015
"Nak, simpanlah
parfum ini. Pakailah setiap hari. Cukup oleskan pada jilbabmu saja di bagian
dada. Mak tahu berapa lama parfum ini akan habis jika kamu pakai hanya pada
satu bagian itu saja.” Kata Mak kepadaku. Lalu ia memberiku sebuah pot bunga
yang batangnya masih kecil. Kira-kira setinggi tiga puluh centimeter.
"Tanamlah bunga
ini di depan rumah, Nak. Dan jika bapakmu bertanya, katakan saja bunga ini
adalah pemberian temanmu di sekolah." Akupun lalu mengangguk. Mak
mengelus-elus rambutku. Lalu ia memelukku sekuatnya. Inilah detik-detik yang
sangat ku benci dalam hidupku. Aku benci sekali dipeluk mak disaat-saat seperti
ini. Kebencianku bercampur aduk dengan kesedihan. Kepiluan yang akan ku jalani
selama beberapa bulan lagi ke depan.
"Mak, nak akan
pakai parfum ini tiga kali sehari seperti minum obat." Suaraku mulai
serak. Air mataku meleleh.
"Jangan, Nak.
Nanti bapakmu bisa marah kalau mak sering-sering mengunjungimu kesini."
Mak menghapus airmataku yang mengalir lancar di pipiku. Mak mengecup keningku
untuk beberapa detik. Kecupan eratnya membuat ada sembilu yang ditarik dari ulu
hatiku.
"Tok... tok...
tok... Deyaaaa..."
Segera mak melepaskan
kecupannya dari keningku. Lalu mak merangkulku sekuatnya. Tak pelak lagi,
sungguh jantungku benar-benar ada yang menusuk.
"Nak, jaga dirimu
baik-baik ya. Mak akan datang lagi kesini jika parfum ini telah habis. Jangan
sedih ya Nak. Mak pergi dulu. Kalau bapakmu tahu mak ada disini kamu pasti akan
dipukili lagi."
Aku hanya bisa
mengangguk. Lalu dengan cepat mak keluar melalui pintu belakang. Pintu itu
sering di pakai nenek untuk keluar menimba air sumur. Dan disekitar sumur ada
kebun yang biasa ayah tanam didalamnya sayur-sayuran.Disebelah utara dari sumur
itu ada pohon rambutan yang batangnya masih sebesar betisku.
Ku lihat mak berjalan
cepat-cepat lalu badannyapun menghilang di antara rumpunan pohon pisang. Tubuh
mak ramping sekali dengan tinggi badan saat ini tujuh sentimeter dari tinggi
badanku. Dua bulan yang lalu tinggi badanku baru sekitar 150 cm.
"Deyaaaaaa!!!"
Suara itu menggelegar. Dengan badan yang kaku aku berjalan menuju pintu depan.
Lalu ketika aku membuka pintu, lagi-lagi suara keras yang tidak asing lagi itu
terdengar memekakkan telingaku.
"Kenapa lama
sekali kau membuka pintu!!! Apa kau tidak tahu aku capek!" Lalu dengan
kasar ia menarik daguku.
"Kau menangis
deya?" Kemudian sambil membuang wajahku dengan kuat ke arah kanan, ia
berkata keras lagi.
"Apa yang kau
tangiskan hah?" Aku menggeleng.
"Jawab!!!"
Suara itu membentak lagi.
"Tidak ada, Pak.
Nak cuma sedih aja." Airmataku mengucur deras lagi.
"Kalau tidak ada
mengapa kau menangis?! Jawablah! Jujur saja!! Kalau tidak, akan ku ikat kau
dekat kuburan itu!" Tangannya menunjuk ke arah timur. Ada sebuah pemakaman
di depan rumah kami. Makam itu panjangnya sekitar lima belas meter. Pemakaman
khusus bagi keluarga besar suku bapakku.
"Ta...tadi nak
ja...jatuh di... di sumur Pak." Suaraku tersengal-sengal karena sudah
tidak tahan lagi menahan isak tangisku.
"Bagus. Kau tidak
pernah hati-hati dengan hidupmu sendiri, Deya. Tunggulah saatnya. Hidupmu akan
hancur jika kau selalu tidak hati-hati."
Sambil mengoceh banyak
kalimat lagi, bapak berlalu ke dapur untuk meletakkan cangkulnya di dekat pintu
dimana ibuku lewat tadi.
Aku
berjalan ke kamar. Ku letakkan pot bunga itu di meja belajarku. Kemudian ku
oleskan parfum itu ke dadaku seperti apa yang mak pesankan.
***
Hari ini hari Minggu.
Seluruh pekerjaan rumah telah ku bereskan, kecuali masak. Bapak selalu berpesan
pada nenek bahwa aku tidak boleh memasak. Bapak bilang aku masih kecil. Belajar
masak hanya akan membuatku cepat dewasa. Jika demikian, ia khawatir pikiranku
bukan untuk sekolah lagi. Tapi untuk menyibukkan diri menanti jodoh, seperti
yang dialami oleh teman-teman di kampungku.
Seperti halnya dua
bulan yang lewat, ketika itu aku memasak nasi goreng. Lalu nenek melihatku
masak dan memberitahu apa saja bumbunya. Kemudian secara tiba-tiba bapak datang
dan memakiku, lalu menyeret lenganku. Aku dibawa ke kamar. Lalu didorong. Aku
terduduk di kursi tepat di depan meja belajarku. Bapak mengambil buku-buku di
rak lalu menghempaskannya ke meja. Bapak memakiku. Bapak bicara panjang lebar
dengan suara keras, bahwa aku harus rajin belajar dan membaca bukan memasak.
Dan ketika bapak pergi
meninggalkanku, aku pun segera mengambil parfum pemberian mak. Parfum itu
tinggal separuh. Ku oleskan di bajuku bagian dada. Disaat-saat seperti itulah
yang membuatku sangat merindukan mak. Airmataku seringkali mengucur tatkala aku
mencium aroma parfum melati itu.
Sebenarnya hari Minggu
ini aku diajak Sari dan Nuri untuk pergi meraton ke pasar. Sehabis itu, mereka
ingin mengajakku pergi ke mall membeli hiasan kamar dan aksesoris lainnya untuk
detakkan di meja belajar.
Namun, seperti halnya
minggu lalu, aku harus menerima pukulan dari rotan di telapak tanganku sebanyak
sepuluh kali masing-masingnya, karena aku terlambat setengah jam saja pulang
kerumah. Sari dan Nuri mengantarku ke rumah lewat dari pukul 13.30. Padahal
waktu yang diberikan bapak untuk pergi bersama mereka hanya sampai pukul 13.00.
Oleh karena itulah aku
menolak ajakan mereka. Aku harus menghabiskan hari liburku hanya di kamar di
depan meja belajar.
Nenek memanggilku dan
menyuruhku untuk segera pergi ke halaman rumah. Aku penasaran. Sejenak
jantungku memompa darah lebih cepat dari biasanya.
"Jangan
Paaaak..." teriakku histeris.
Namun lelaki paruh
baya itu terus saja mencabik-cabik polybag
bunga melati pemberian ibuku dengan pisau pemotong sayur. Nenek hanya memegang
tanganku dan lalu memelukku. Ia mengelus-elus pundakku. Nasihat nenek tak
didengar oleh bapak. Bapak terus saja membabi buta mengoyak-ngoyakkan pot bunga
itu. Tanahpun berserakan seiring mengucurnya airmataku. Lalu bapak
mematah-matahkan batang melati itu. Dan meremas-remas seluruh daun dan bunganya
yang putih suci itu.
Hatiku tersayat hebat.
Sakit sekali. Rasanya memang seperti ada belati menusuk hatiku. Mulutku tak
mampu berucap apa-apa lagi. Lalu ayah menghempaskannya tanah dengan keras.
Kemudian bapak melakukan hal yang sama dengan melati lain. Ada tujuh buah polybag melati lagi.
Aku melepaskan pelukan
nenek lalu mengambil tiga polybag
yang tersisa. Namun bapak menendang badanku tepat mengenai pundakku. Aku
terhempas ke tanah. Tangan kananku terhimpit dan sikuku terkena pecahan kaca.
Sikuku berdarah dan terasa ngilu. Namun belum sepilu hatiku yang sedang
tercabik-cabik.
"Kau telah
membohongiku, Deyaa!!!" Bapak melotot padaku. Lalu meludah keras ke
wajahku. Ku hapus dengan syal putih yang melilit di leherku. Lalu aroma melati
syal itupun semakin membuatku terpekik hebat.
Aku ingin mak ada
disini memelukku. Namun sayup-sayup aroma itu hilang karena hidungku dipenuhi
cairan. Aku tak bisa lagi menciumnya lagi. Hidungku
tersumbat.
Bapak terus saja
menendang dan menginjak-injak melati yang tak berdaya itu. Kini hilang sudah
melatiku. Melati yang dikirim mak setiap hari dalam minggu ini. Kiriman melati
yang tidak sesering itu dikirim oleh mak sebelumnya.
"Kau bilang
melati ini adalah pemberian temanmu. Tapi nampak oleh mata kepalaku sendiri
dari kejauhan mak Kau yang mengirimnya melalui Nina. Lalu Nina memberikannya
padamu." Bapak memekik keras sambil mencangkul tanah untuk menguburkan
semua melati bersama tanah humus itu. Nina
adalah tetangga kami sekaliagus teman satu kelasku.
Aku sungguh tak bisa
lagi berbuat apa-apa.Bapak memang sangat benci dengan mak. Bapak mengusir mak karena
cemburu buta. Bertahun-tahun mak di kurung di rumah. Mak tidak pernah bisa ke
luar rumah sekalipun hanya untuk pergi ke warung membeli kebutuhan pokok. Kalau
tidak nenek yang membelikannya, maka akulah yang akan membelinya.
Namun ketika itu ada
tukang sayur yang lewat di depan rumah kami. Mak merasa bapak tidak akan marah.
Lagipula bapak ketika itu sedang pergi ke pasar menjual sayur.
Hari libur terakhir
bersama mak itu, meninggalkan kenangan yang sangat pahit bagiku. Bapak dengan
kasarnya menyeret lengan mak ke rumah lalu memukulinya, dan memaki. Sumpah
serapah keluar dari mulutnya. Mak memekik sekuat tenaga. Tetangga kami tidak
ada yang peduli karena mereka juga takut dengan bapak.
Lalu hari itu juga
bapak membereskan pakaian mak dan mengusirnya. Mak tidak punya rumah lagi. Mak
pergi meningglkan kami tanpa sebuah bendapun terkecuali parfum beraroma melati
itu. Mak berjanji akan selalu menemuiku saat parfum melatiku sudah habis. Lalu,
saat itu mak bilang ia akan tinggal di kontrakan dekat pasar, tinggal bersama
temannya.
Setelah kejadian itu,
bapak selalu memarahiku bahkan pada hal-hal kecil sekalipun. Apalagi ketika
temanku datang ke rumah mengajakku pergi bermain ke luar. Bapak tidak
mengizinkannya lagi. Ia pun tidak pernah percaya kalau kami harus pergi ke
rumah guru untuk belajar kelompok.
Setelah mengubur semua
sampah melati itu beserta tanah humus dari pot plastiktersebut, lalu pergi ke
dekat kebun untuk membakar plastik polybag
itu. Dan aku pun kembali ke kamar. Aku yang masih menangis, memandang ke
luar jendela. Mataku tertuju pada tanah yang baru saja bapak kubur melati itu.
***
"Mak...maafin nak
yaaa. Nak tidak bisa berbuat apa-apa. Nak sayang mak. Nak akan selalu
mendo'akan Mak. Mak, nak sangat suka bunga melati yang mak kasih. Melati itu bapak
tanam di depan jendela kamar nak. Sebelum belajar, nak selalu melihat timbunan
melati itu, Mak. Bapak juga sayang sama Mak. Maaaaakk...." Airmataku
meleleh tiada henti. Ulu hatiku bagai diikat dengan kawat yang berduri. Aku
memeluk kuburan mak, setelah semua orang meninggalkan pemakaman. Aku dan nenek
masih duduk di dekat pemakaman mak. Sementara bapak sedang sibuk mengantarkan
keranda mayat ke mesjid bersama bapak-bapak yang lain.
Tak lama kemudian,
ayah menarik tanganku dan menyeretku pulang. Aku melambaikan tangan ke kuburan
mak. Aku sayang makku. Hatiku remuk dan perasaanku terbawa jauh ke ruang hampa.
Aku tiada hentinya memandangi kuburan mak sampai aku masuk ke dalam mobil. Ku
buka kaca mobil, ku melihat sayu ke kuburan mak dengan mataku yang masih
mengalirkan air mata.
Semenjak kepergian
mak, aku selalu membeli parfum melati itu dan setiap kali aku mencium aroma
melati, doakupun tak luput untuk mak.[]




25%