Welcome to Souq commerce Store !
Dinamika Eksistensi Pondok Pesantren Salafiyah di Sumatera Barat : Dialektika Tradisi, Modernitas, dan Tantangan Keberlanjutan

Dinamika Eksistensi Pondok Pesantren Salafiyah di Sumatera Barat : Dialektika Tradisi, Modernitas, dan Tantangan Keberlanjutan

Size :
(0 customer review)

 

Penulis: Dr. Harmonedi, M.Ag
Dr. Misra, M.S.I
Yanti Novita, S.IQ.,MA
Ilustrasi cover: Farhan Lungka
Penata Letak sampul dan isi: Alizar Tanjung
Ukuran: 15.5x23, cm
Halaman: x+128, H
Penerbit: Rumahkayu Pustaka
ISBN: -

Cetakan, Juli 2026


Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional yang memiliki peran penting dalam pembinaan keagamaan, pembentukan karakter, dan penanaman nilai kemandirian santri. Melalui pembelajaran kitab-kitab klasik yang dipadukan dengan pendidikan formal, pesantren tidak hanya mentransmisikan ilmu agama, tetapi juga membentuk pribadi santri yang disiplin, bertanggung jawab, dan mampu hidup mandiri.

Dalam konteks tersebut, kiai memegang peran sentral sebagai figur kharismatik yang tidak hanya membimbing akhlak santri, tetapi juga mengarahkan keseluruhan sistem pendidikan pesantren. Melalui keteladanan dan kepemimpinannya, nilai-nilai keagamaan serta budaya lokal ditanamkan secara berkelanjutan dalam kehidupan santri. Dengan demikian, pondok pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan Islam, tetapi juga sebagai wahana pembentukan karakter bangsa melalui penanaman nilai kemandirian, kebersihan, kepedulian lingkungan, dan kesehatan yang berlandaskan ajaran Islam.

Salah satu bentuk pesantren yang hingga kini tetap mempertahankan corak pendidikan tradisional adalah pesantren Salafiyah. Pesantren ini menempatkan pembelajaran kitab kuning sebagai inti pendidikan serta mempertahankan tradisi pembelajaran yang telah berlangsung secara turun-temurun. Dalam konteks tersebut, kiai menjadi figur sentral yang menentukan arah pendidikan, membimbing kehidupan santri, dan menjaga keberlangsungan nilai-nilai tradisi pesantren. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, pesantren Salafiyah menghadapi berbagai tantangan seiring perubahan zaman. Di satu sisi, pesantren berupaya mempertahankan tradisi dan metodologi pendidikan yang telah mengakar kuat, di sisi lain, pesantren juga dituntut untuk beradaptasi dengan perkembangan kebijakan pemerintah dan dinamika sosial masyarakat.

Salah satu faktor yang memperkuat dilema tersebut ialah hadirnya kebijakan negara dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren. Melalui kebijakan penyetaraan pendidikan pada pondok pesantren, yang antara lain dirujuk dalam Keputusan Bersama Nomor 19/E/MS/2004 dan Nomor Dj.II/166/2004, serta diperkuat oleh Kesepakatan Bersama Nomor 19/E/MS/2007 dan Nomor 2 Tahun 2007 tentang penyelenggaraan program pendidikan luar sekolah di lembaga keagamaan, pesantren Salafiyah didorong untuk memasukkan mata pelajaran umum ke dalam kurikulumnya. Bagi pesantren yang sejak awal menempatkan pengajaran agama dan kajian kitab kuning sebagai inti pendidikan, kebijakan tersebut menghadirkan dilema yang tidak sederhana. Di satu sisi, pesantren dituntut menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan nasional; di sisi lain, pesantren tetap berupaya mempertahankan identitas, tradisi keilmuan, dan corak pendidikan khas Salafiyah.

Selain menghadapi tuntutan kebijakan pendidikan, pesantren juga kerap berhadapan dengan persoalan kepemimpinan. Keberlanjutan pesantren sering kali sangat bergantung pada sosok kiai yang memiliki kharisma, otoritas keilmuan, dan pengaruh kuat dalam kehidupan pesantren. Hal ini menunjukkan bahwa eksistensi dan perkembangan pondok pesantren tidak dapat dipisahkan dari peran kiai sebagai tokoh sentral, yang bukan hanya memimpin lembaga, tetapi juga berfungsi sebagai intelektual penggerak dalam pengembangan pesantren pada berbagai aspek.

Dalam konteks itu, buku ini berupaya menawarkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika dilema yang dihadapi pondok pesantren Salafiyah di Sumatera Barat. Salah satu persoalan penting yang disorot ialah regenerasi kepemimpinan, yang kerap menjadi faktor penentu keberlanjutan pesantren di masa depan. Kompleksitas persoalan tersebut semakin bertambah karena perhatian pemerintah, khususnya Kementerian Agama, terhadap pengembangan pesantren salafiyah dinilai belum optimal. Di samping itu, berkembang pula pandangan di sebagian masyarakat bahwa lulusan pendidikan berbasis kitab kuning belum sepenuhnya siap menghadapi dunia kerja modern, terutama karena dianggap kurang dibekali keterampilan praktis dan penguasaan teknologi yang sesuai dengan tuntutan zaman. Kondisi inilah yang memperlihatkan bahwa dilema pesantren Salafiyah tidak hanya berkaitan dengan upaya mempertahankan tradisi, tetapi juga dengan tuntutan adaptasi terhadap perubahan sosial yang terus berkembang.

Lebih jauh, buku ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik dalam memperkaya diskursus tentang transformasi lembaga pendidikan Islam, sekaligus menjadi masukan praktis bagi pengembangan kebijakan dan penguatan kelembagaan pesantren, baik pada masa kini maupun masa mendatang. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif sangat diharapkan demi penyempurnaan isi dan kualitas buku ini.