Penulis:
A.R. Rizal
Pendesain Sampul: Muhammad Rasyid
Ilustrasi Dalam: Tim Rumahkayu
Penata Letak: Alizar Tanjung
Ukuran: 13.5x20.5, cm
Halaman: 246, H
Penerbit: Rumahkayu Pustaka Utama
Cetakan Pertama, Oktober 2026
GADIS kampung itu tak menaruh prasangka ketika
laki-laki rantau meminangnya. Rajab meminang Sona karena kagum dengan
kepandaian memasaknya.
Ketika Rajab membawa sang
istri ke perantauan, tersadarlah Sona bahwa hidupnya telah dikuasai. Rajab
hanya ingin menikahi kepandaian memasaknya. Di rumah makan, laki-laki itu
seakan-akan mempekerjakan sang istri.
Kekuasaan Rajab terhadap Sona semakin
menyakitkan ketika laki-laki itu medua hati. Ia terjerat kemolekkan janda muda
yang dijadikan pekerja di rumah makan.
Perhatian Rajab tercurah kepada janda muda.
Mimi dibuatkan rumah makan dan ia menjadi puan besar di sana. Sona diabaikan
begitu saja. Menjadi istri yang tak dianggap. Sona bertahan dengan takdir
buruknya. Tapi, sudah menyiapkan pembalasan yang sempurna untuk laki-laki dan
perempuan yang telah menghinakan nasibnya. Perempuan itu membalas lewat
sepiring gulai kepala ikan.
***
Sumatera Barat memiliki kekayaan kuliner yang luar biasa.
Randang, masakan khas Minangkabau bahkan menjadi masakan paling nikmat di
dunia. Kearifan lokal Minangkabau juga terikat pada kuliner. Nagari-nagari
eksis dengan ciri khas kulinernya masing-masing.
Nagari Kapau identik dengan nasi kapau. Nagari Kubang
identik dengan martabak kubang. Kampung-kampung di Pariaman juga punya kekhasan
kulinernya.
Desa Kuraitaji punya katupek kuraitaji. Desa Pauh punya nasi
pauh. Ciri khas nasi pauh ada pada gulai kepala ikan. Gulai kepala ikan tidak
hanya identik dengan Desa Pauh. Tapi, makanan ini sudah mengindentifikasikan
Pariaman secara umum.
Dalam tradisi merantau masyarakat Minangkabau, kuliner
menjadi identitas yang tak pernah ditinggalkan. Tidak hanya sebagai identitas,
kuliner menjadi sumber mata pencaharian orang Minang di perantauan.
Salah satu makanan khas Pariaman adalah sate. Sate Pariaman
yang unik menjadi usaha bagi orang Pariaman di rantau. Banyak orang Pariaman
yang berprofesi sebagai penjual sate di rantau.
Selain sate, orang Pariaman juga umumnya membuka rumah makan
di rantau. Rumah makan itu menggusung tema kuliner khas Pariaman. Gulai kepala
ikan menjadi menu spesial yang selalu dihadirkan di rumah makan milik orang
Pariaman.
Gulai kepala ikan tidak hanya soal kuliner. Makanan ini
mencerminkan realitas sosial, budaya, bahkan filosofi hidup orang Pariaman.
Pariaman merupakan daerah pesisir. Kawasan ini mempunyai
kekayaan pada bidang perkebunan dan kelautan. Hasil lautnya melimpah.
Sementara, perkebunannya didominasi kebun kelapa. Kekayaan alam inilah yang
mempengaruhi kuliner masyarakat Pariaman.
Makanan laut, makanan gulai dan bersantan menjadi ciri khas
kuliner Pariaman. Ciri khas itu melekat secara sempurna pada gulai kepala ikan.
Gulai kepala ikan sudah menjadi maskot kuliner Pariaman.
Ada makna filosofis pada gulai kepala ikan. Bahan-bahan pada
makanan itu memiliki makna yang melekat pada pandangan hidup masyarakatnya.
Santan bukan hanya sekadar santan. Santan adalah pemersatu dalam beragam
perbedaan bahan dan bumbu di dalam sepiring gulai.
Kehidupan masyarakat Pariaman melekat pada sepiring gulai
kepala ikan. Mengambarkan peliknya hidup, perjuangan, dan kearifan-kearifan
yang terus mengakar di dalam kehidupan masyarakat.
R.M. Ajo Paris: Spesifik Gulai Kepala Ikan Karang bukan
hanya soal makanan. Bukan hanya sekadar kisah seorang perempuan kampung bernama
Sona.
Ini perjuangan hidup. Soal eksistensi perempuan yang
tergerus di alam matrilineal terbesar di dunia. Ada ironi hidup perempuan di
negeri yang mengagungkan bundo kanduang.
R.M. Ajo Paris: Spesifik Gulai Kepala Ikan Karang bukan hanya tentang perempuan Pariaman, perempuan Minang. Kisah ini tentang perlawanan seorang perempuan. Bahwa, perempuan melawan dengan caranya sendiri.*





25%