Welcome to Souq commerce Store !
DEDIKASI SANG MAESTRO TARI ERY MEFRI (23 JUNI 1958-11 FEBRUARI 2026) RETROSPEKSI GELANGGANG TARI SUMATERA PADANG BAGALANGGANG KABA FESTIVAL (1988-2025)

DEDIKASI SANG MAESTRO TARI ERY MEFRI (23 JUNI 1958-11 FEBRUARI 2026) RETROSPEKSI GELANGGANG TARI SUMATERA PADANG BAGALANGGANG KABA FESTIVAL (1988-2025)

Size :
(0 customer review)

 



EDITOR

Nasrul Azwar

Hermawan

PENERBIT

Rumahkayu Pustaka Utama

DESAIN ISI BUKU

Tim Rumahkayu Pustaka

DESAIN SAMPUL BUKU

Andre Pratama

CETAKAN, September 2026

UKURAN BUKU

15,5 cm x 23 cm

HALAMAN

xxiii+500



Saya berbahagia hari ini—seperti halnya saat-saat pertunjukan Nan Jombang, di sini atau di manapun kami berpentas. Kebahagiaan ini telah dibangun sejak lama, setidaknya sejak grup ini lahir pada 1 November 1983. Sepanjang usia, sepanjang cerita, sepanjang kenangan, sebanyak itulah karya yang telah kami lahirkan. Hari ini, KABA Festival menjadi kelanjutan dari perjalanan panjang itu. Ia tumbuh dari Galanggang Tari Sumatera yang kami selenggarakan sejak 1988, terus ke Padang Bagalanggang, dan berganti nama menjadi KABA Festival sejak 2014. 

Sebagaimana namanya, festival ini adalah kaba— sebuah kabar tentang seni, tentang hasil karya yang mungkin selama ini belum pernah tampil dalam makna yang sesungguhnya. KABA Festival adalah ajang unjuk karya. Ia menjadi ruang untuk “keluar dari rumah”—rumah yang tak terkunci, tapi kadang kaki tak bisa melangkah. Dalam festival ini, semaksimal mungkin kami tampilkan seni pertunjukan kontemporer yang berakar pada tradisi. Apa yang tersaji di panggung adalah hasil dari proses panjang: dari niat, gagasan, riset, pergulatan, hingga keberanian untuk bersuara. Nan Jombang Dance Company menjadi bagian dari perjalanan itu—sebuah kelompok yang kami bangun dengan tangan sendiri.

Saya percaya, kita semua bisa. Siapa pun kita, selama mau berproses, akan melahirkan karya. Dan karya, sejatinya, adalah aroma dari kehidupan keseharian seseorang atau kelompok. Saya tahu betul bahwa menghadirkan karya bukan perkara mudah. Ide yang cemerlang dan perenungan yang dalam pun bisa tercerai berai jika suasana hati dan  lingkungan tidak mendukung. Maka, lingkungan harus diajak dan disadarkan bahwa karya seni tidak serta-merta hadir begitu saja. Ia tumbuh dari ruang-ruang yang mendukung, yang memberi semangat. 

Namun, jangan pula menyalahkan diri sendiri bila belum sampai. Yang kita butuhkan adalah motivasi kerja. Nan Jombang, meski belum sehebat yang dibayangkan, telah berusaha sejak 1983. Hari ini, kami menandai 42 tahun perjalanan itu. Namun, hidup tidak bisa dijalani sendiri. Saya, dengan penuh syukur, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membesarkan Nan Jombang. Tak ada seorang pun yang bisa meraih piala sendirian—semuanya butuh dukungan. Saya merasakannya, sama seperti saya pernah merasakan kesendirian yang sunyi.

Keinginan utama kami di Nan Jombang adalah agar karya-karya hebat anak bangsa terus lahir—karya yang mengagumkan, bahkan menggetarkan. Semua yang tampil dan belum tampil dalam KABA Festival adalah saudara kandung kita semua. Mereka datang dengan harapan tinggi. Dan saya pun berharap, masa depan kebudayaan dan kesenian akan semakin gemilang. Tuhan, jangan pindahkan gunung—biarkan kami mendakinya.

Dalam KABA Festival X 2025 ini, saya sampaikan ucapan terima kasih yang panjang dan takzim kepada semua pihak yang telah memberi doa, semangat, dan dukungan penuh, terutama kepada Kementerian Kebudayaan dalam Program Strategis Dana Indonesiana-LPDP, para sahabat, kerabat, juga rekan-rekan pers dan para penulis yang budiman, seniman, budawyaan, masyarakat seni, dan juga tentu kepada Forum Perjuangan Seniman Sumatera Barat.

Kami berharap juga, kehadiran buku Retrospeksi Gelanggang Tari Sumatera-Padang Bagalanggang-KABA Festival (1988-2025) menjadi bagian penting dalam perjalanan seni pertunjukan Sumatera Barat dan Indonesia serta Nan Jombang Dance Company.