Ini lagi-lagi tentang kau dan
aku. Tentang perseteruan yang tiada berkesudahan. Aku agaknya sudah berpikir
masak-masak, segalanya mesti usai jua pada akhirnya. Entah itu persekutuan
kita, entah itu perseteruan, atau bisa jadi pertalian yang sudah berbilang
tahun kita tautkan. Segala sesuatu di suatu waktu akan bertemu titik akhir.
Barangkali akhir untuk kau dan aku tak lagi lama menjumpai. Kita setidaknya
mesti menyiapkan segala yang dirasa perlu, sedikit banyaknya. Aku hari ini
dengan (agak) berat hati mengatakannya. Tapi biarlah. Kau semoga saja mafhum.
Bila tidak pun, tak apa.
Entah mengapa, semakin hari kau
semakin jauh. Kau seakan memasuki dimensi yang tiada terjamah olehku. Kau
mengungkung diri bahkan jiwamu entah dengan apa aku tak tahu. Semakin hari
semakin lebar rentang yang membentang, semakin tebal batas yang menyekat. Kau
sepertinya tak menyadari, entah hanya tak ingin atau memang pura-pura. Aku
senantiasa mereka-reka. Itu sajalah yang aku bisa.
Sebab semua itulah, kau menjadi
bertindak sesuka hatimu, seakan aku tiada. Seakan (lagi-lagi) segala tentang
kita hanyalah omong kosong belaka. Tiada lagi kau berpamit saat hendak pergi,
tiada menegur saat kembali, apalagi menanyaiku dengan sepenuh hati. Bagimu
keberadaanku telah lama menyerupai ketiadaan. Adanya aku semisal tiada.
Begitulah. Sapamu bukanlah lagi sapaan syahdu, apalagi penuh rindu. Tatapanmu
tak lagi memberi keteduhan, apalagi kesungguhan. Kau sungguh sudah banyak
berubah. Oh bukan, akulah yang banyak berubah. Aku tiada lagi mampu memegang
erat-erat sisa-sisa jiwamu yang dulu pernah kumiliki secara utuh. Hingga tanpa
sadar, lambat laun, kau bagiku pun berangsur menjadi bukan apa-apa. Oh![YS]




25%