Penulis: Mustafa Akmal
Pendesain Sampul: Farhan Lungka
Penata Letak: Tim Rumahkayu Pustaka
Ukuran: 13.5 x 20.5, cm
Halaman: x + 136, H
Penerbit: Rumahkayu Pustaka
ISBN: -
Cetakan, Juli 2026
Buku ini saya tulis sebagai catatan perjalanan hidup. Bukan untuk membanggakan diri, melainkan untuk merekam pengalaman yang pernah saya lalui sejak menjadi wartawan muda di Padang Panjang hingga menjalani berbagai peran dalam kehidupan: sebagai Pegawai Negeri Sipil, wartawan, mahasiswa, dosen, aktivis Muhammadiyah, pengurus organisasi pers, advokat, pembina anak nagari, dan seorang datuk dalam kaum.
Perjalanan ini bermula dari sebuah tulisan sederhana tentang luncuran patah di Pemandian Lubuk Mata Kucing. Saya tidak pernah membayangkan bahwa tulisan kecil itu akan membuka jalan panjang dalam hidup saya. Dari satu kolom di koran, saya belajar bahwa tulisan bisa menggerakkan orang. Dari tulisan itu pula saya mulai mengenal dunia jurnalistik, redaksi, narasumber, organisasi, pendidikan, hukum, budaya, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam perjalanan sebagai wartawan, saya belajar bahwa berita bukan sekadar tulisan yang terbit di koran. Di balik berita ada keberanian, ketelitian, kejujuran, dan tanggung jawab. Ada perjalanan ke lapangan, ada narasumber yang harus didengar, ada fakta yang harus dijaga, dan ada masyarakat yang berhak memperoleh informasi yang benar. Dunia wartawan mengajarkan saya membaca kehidupan lebih dekat.
Profesi wartawan juga membawa saya ke banyak ruang pengabdian. Dari kegiatan Keluarga Berencana, perjalanan ke Kepulauan Mentawai, ruang sidang pengadilan, ruang kuliah, organisasi Muhammadiyah, Persatuan Wartawan Indonesia, lembaga bantuan hukum, hingga persahabatan lintas negara dengan insan pers Malaysia. Semua pengalaman itu membentuk cara saya memandang hidup: bahwa setiap ilmu, jabatan, dan kesempatan pada akhirnya harus kembali menjadi manfaat bagi orang lain.
Sebagai Pegawai Negeri Sipil, saya belajar disiplin dan tanggung jawab. Sebagai wartawan, saya belajar keberanian dan kejujuran. Sebagai dosen, saya belajar berbagi ilmu. Sebagai aktivis, saya belajar menggerakkan kebersamaan. Sebagai advokat, saya belajar membela hak dan memberi pemahaman hukum kepada masyarakat. Sebagai pembina anak nagari, saya belajar bahwa pulang ke kampung bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menanam kebaikan untuk generasi berikutnya.
Buku ini juga saya persembahkan untuk keluarga saya. Di balik perjalanan panjang seorang wartawan, ada istri yang sabar menunggu dan anak-anak yang menjadi sumber doa serta kekuatan. Pekerjaan wartawan sering tidak mengenal waktu. Kadang pergi pagi pulang malam, kadang berangkat hari ini pulang beberapa hari kemudian. Pada masa dulu, komunikasi tidak semudah sekarang. Karena itu, dukungan keluarga menjadi bagian penting dari setiap langkah yang saya tempuh.
Banyak orang berjasa dalam perjalanan hidup saya. Ada redaktur yang mengoreksi tulisan pertama saya. Ada wartawan senior yang membimbing saya. Ada pimpinan kantor yang memberi ruang. Ada guru, dosen, tokoh masyarakat, sahabat organisasi, rekan wartawan, sahabat di Malaysia, dan masyarakat yang memberi saya kesempatan untuk belajar. Kepada mereka semua, saya menyampaikan terima kasih yang tulus.
Sebagai orang Minang, saya percaya pada petatah: alam takambang jadi guru. Hidup yang terbentang luas adalah tempat belajar. Saya belajar dari kegagalan, keterbatasan, pekerjaan, organisasi, ruang sidang, ruang kuliah, kantor, rutan, laut Mentawai, kampung halaman, dan masyarakat. Tidak semua pelajaran datang dari buku. Banyak pelajaran datang dari peristiwa, perjumpaan, dan kesediaan hati untuk merenung.
Saya berharap buku ini dapat menjadi catatan kecil tentang ketekunan, keberanian, kejujuran, silaturahmi, dan pengabdian. Terutama bagi anak muda, saya ingin menitipkan pesan: jangan takut memulai dari jalan kecil. Sebab sering kali, jalan kecil itulah yang membawa kita kepada ruang pengabdian yang lebih luas.
Semoga buku ini bermanfaat bagi keluarga, sahabat, insan pers, anak nagari, dan siapa pun yang membacanya. Jika ada kekurangan dalam penulisan nama, tahun, tempat, atau peristiwa, hal itu semata-mata karena keterbatasan ingatan saya sebagai manusia. Namun seluruh kisah dalam buku ini saya tulis dengan niat baik: merawat kenangan, mengambil pelajaran, dan mewariskan semangat pengabdian.
Batusangkar,
Mustafa Akmal, S.H., M.H., Dt. Sidi Ali




.jpg)
25%